Kanker serviks masih menjadi momok menakutkan bagi perempuan Indonesia. Data terbaru menunjukkan, penyakit ini merenggut sekitar 21.000 nyawa setiap tahun, dengan 36.000 kasus baru yang terdiagnosis. Padahal, pemerintah telah menyediakan fasilitas Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk deteksi dini, namun antusiasme masyarakat masih jauh dari harapan.
Budaya dan Agama Jadi Penghambat
Menurut Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, rendahnya partisipasi skrining dipengaruhi dua hal utama. Pertama, faktor budaya yang membuat banyak perempuan menerima nasib tanpa upaya pencegahan. Kedua, kendala agama yang menimbulkan rasa malu, khususnya terkait pemeriksaan di area sensitif bagi yang sudah menikah.
Peran Tokoh Masyarakat Diperlukan
Veronica menegaskan bahwa kesehatan perempuan adalah pondasi kemajuan bangsa. Untuk itu, ia mendorong kolaborasi berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan adat, dalam menyosialisasikan pentingnya deteksi dini. Tujuannya, meningkatkan kesadaran akan skrining dan vaksinasi HPV—langkah kunci mencegah kanker serviks. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan lebih banyak perempuan terdorong melindungi diri dari ancaman penyakit mematikan ini.





